Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DaerahEkonomi

Stok Pangan Aman Jelang Ramadhan, Pemprov Maluku Waspadai Tekanan Inflasi

12
×

Stok Pangan Aman Jelang Ramadhan, Pemprov Maluku Waspadai Tekanan Inflasi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON,MM. – Pemerintah Provinsi Maluku memastikan ketersediaan stok pangan jelang bulan suci Ramadhan 1447 H/2026 M dalam kondisi aman. Meski demikian, potensi tekanan inflasi tetap menjadi perhatian serius, terutama pada sejumlah komoditas yang kerap mengalami lonjakan harga saat momentum keagamaan.

 

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku, Faradilla Attamimi, dalam konferensi pers ketahanan pangan daerah menjelang Ramadhan dipimpin Asisten II Setda Maluku, Kasrul Selang, pekan lalu.

 

Ia menyebutkan bahwa momen hari besar keagamaan seperti Imlek, Ramadhan, Idul Fitri, dan Nyepi selalu berpotensi memicu gejolak harga, namun Ramadhan dan Idul Fitri menjadi perhatian terbesar.

 

“Dari evaluasi 2024-2025, kami memetakan komoditas yang berpotensi menjadi penyumbang inflasi pada 2026. Fokus utama tetap pada beras, minyak goreng, dan sejumlah sayuran,” ujar Attamimi.

 

Ia menjelaskan, selama periode Maret 2024 hingga Februari 2025 terdapat 11 komoditas utama yang berkontribusi terhadap inflasi, di antaranya beras, bensin, cabai, kacang panjang, dan minyak goreng.

 

Menjelang Ramadhan, Dinas Ketahanan Pangan bersama Bank Indonesia dan para pemangku kepentingan terus mengintensifkan pemantauan terhadap komoditas tersebut guna mencegah fluktuasi harga yang berlebihan.

 

Terkait perkembangan harga, Attamimi mengungkapkan bahwa pada Februari 2026 beberapa komoditas seperti bawang merah, beras, dan telur ayam ras tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata tiga tahun terakhir. Meski demikian, harga bawang merah dan beras mulai menunjukkan penurunan ke level rata-rata, sementara telur ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah relatif stabil.

 

Berdasarkan pemantauan di 11 kabupaten/kota, dari 15 komoditas pangan yang memiliki Harga Eceran Tertinggi (HET), tercatat 11 komoditas masih dijual di atas HET. Namun demikian, beras medium, beras SPHP, dan daging sapi masih berada di bawah HET.

 

Dari sisi konsumsi, kebutuhan pangan masyarakat Maluku mengalami peningkatan sekitar 15 persen. Pada Februari 2026, konsumsi beras tercatat mencapai 23.500 ton, daging sapi dan minyak goreng masing-masing sekitar 1.649 ton. Peningkatan ini tidak hanya berasal dari rumah tangga, tetapi juga kebutuhan non-rumah tangga, termasuk sektor industri dan program makan bergizi gratis (SPPG).

 

“Kalau dilihat dari perhitungan kebutuhan dan stok di pasar, beras, daging sapi, telur, dan gula pasir masih aman untuk dua bulan ke depan. Untuk cabai merah dan cabai rawit, karena sifatnya mudah rusak, stok dipenuhi secara bergilir hingga Februari dan Maret,” jelasnya.

 

Untuk mengantisipasi lonjakan harga dan menjamin keamanan serta mutu pangan, pemerintah daerah menjalankan pengawasan ketat sesuai arahan Badan Pangan Nasional. Satgas pengawasan pangan diwajibkan turun ke pasar setiap tiga hari sekali melalui Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP), dengan pelaporan berjenjang dari kabupaten/kota ke provinsi hingga ke pemerintah pusat.

 

“Jika ditemukan harga yang terlalu tinggi dan tidak wajar, bisa ditindaklanjuti hingga penegakan hukum. Tugas satgas adalah pengawasan, evaluasi, dan penindakan,” tegas Attamimi.

 

Selain itu, Pemprov Maluku juga telah menyiapkan langkah intervensi berupa gerakan pangan murah, khususnya di Pulau Ambon, yang akan digelar menjelang Idul Fitri. Langkah ini diharapkan dapat menjaga keterjangkauan harga sekaligus memastikan masyarakat tetap memperoleh bahan pangan pokok selama Ramadhan hingga Lebaran. (MM-9)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *