AMBON, MM. – Pasar tenaga kerja di Provinsi Maluku menunjukkan pergerakan positif pada Mei 2026. Jumlah angkatan kerja bertambah, penyerapan tenaga kerja meningkat, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun dibandingkan Februari 2026.
Namun, di balik perbaikan sejumlah indikator tersebut, struktur ketenagakerjaan Maluku masih menghadapi tantangan.
Sebagian besar pekerja masih menggantungkan penghasilan dari sektor informal, sementara jumlah setengah penganggur justru mengalami peningkatan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, mengatakan TPT Maluku pada Mei 2026 berada di level 5,75 persen. Angka tersebut turun 0,05 persen poin dibandingkan Februari 2026.
Sementara Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mencapai 67,86 persen atau meningkat 0,02 persen poin dibandingkan Februari 2026.
Data tersebut disampaikan Pattiwaellapia saat merilis Berita Resmi Statistik (BRS) di ruang rapat Kantor BPS Provinsi Maluku, pekan kemarin.
Angkatan Kerja Tembus 1,01 Juta Orang
Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026, jumlah angkatan kerja di Maluku mencapai 1.013.336 orang.
Jumlah tersebut meningkat sebanyak 4.226 orang dibandingkan Februari 2026.
Kenaikan jumlah angkatan kerja menunjukkan semakin banyak penduduk Maluku yang masuk atau aktif dalam pasar kerja. Pada saat bersamaan, jumlah penduduk yang bekerja juga mengalami peningkatan.
BPS mencatat penduduk yang bekerja pada Mei 2026 mencapai
955.088 orang, bertambah 4.536 orang dibandingkan Februari 2026.
Dengan demikian, penurunan TPT berjalan beriringan dengan bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja.
Meski demikian, pertumbuhan tersebut masih perlu dilihat dari sisi kualitas pekerjaan yang tersedia.
Pertanian Masih Jadi Penopang Utama
Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan masih menjadi lapangan usaha dengan penyerapan tenaga kerja terbesar di Maluku.
Pada Mei 2026, sektor tersebut menyerap sebanyak 329.471 pekerja.
Besarnya tenaga kerja yang bergantung pada sektor primer menunjukkan bahwa struktur ekonomi Maluku masih sangat ditopang aktivitas pertanian, kehutanan dan perikanan.
Kondisi ini sekaligus menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk mendorong diversifikasi ekonomi dan memperluas kesempatan kerja pada sektor-sektor dengan produktivitas serta nilai tambah yang lebih tinggi.
Pengembangan industri pengolahan, perdagangan, jasa, ekonomi kreatif dan sektor-sektor produktif lainnya menjadi penting agar pertumbuhan jumlah tenaga kerja dapat diikuti dengan semakin beragamnya pilihan pekerjaan.
623 Ribu Pekerja Masih di Sektor Informal
Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah dominannya pekerja informal.BPS mencatat sebanyak 623.102 orang atau 65,24 persen dari penduduk yang bekerja berada pada kegiatan informal.
Meskipun persentase tersebut turun 0,28 persen poin dibandingkan Februari 2026, jumlahnya tetap menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja Maluku masih berada di luar struktur pekerjaan formal.
Besarnya proporsi pekerja informal memiliki implikasi terhadap stabilitas pendapatan, perlindungan tenaga kerja dan kepastian pekerjaan. Artinya, penurunan angka pengangguran belum otomatis menunjukkan bahwa seluruh tenaga kerja telah memperoleh pekerjaan dengan tingkat keamanan dan kesejahteraan yang lebih baik.
Setengah Penganggur Justru Naik
Indikator lain yang perlu dicermati adalah perubahan komposisi jam kerja. BPS mencatat persentase pekerja paruh waktu mengalami penurunan sebesar 3,19 persen poin dibandingkan Februari 2026.
Namun, pada periode yang sama, persentase setengah penganggur justru meningkat sebesar 3,01 persen poin.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan pasar kerja tidak hanya terletak pada ada atau tidaknya pekerjaan, tetapi juga pada kecukupan pekerjaan yang tersedia bagi masyarakat.
Setengah penganggur merupakan kelompok pekerja yang masih bekerja tetapi memiliki jam kerja atau kapasitas kerja yang belum optimal. Karena itu, peningkatan indikator tersebut menjadi sinyal bahwa sebagian pekerja masih membutuhkan tambahan jam kerja atau kesempatan kerja yang lebih memadai.
Tantangan Ekonomi Maluku
Data ketenagakerjaan Mei 2026 memperlihatkan dua sisi perkembangan ekonomi Maluku.
Di satu sisi, angkatan kerja bertambah 4.226 orang dan penduduk bekerja meningkat 4.536 orang. TPT juga turun menjadi 5,75 persen.
Namun di sisi lain, dominasi pekerjaan informal serta kenaikan persentase setengah penganggur menunjukkan bahwa tantangan pasar kerja belum sepenuhnya selesai.
Karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan ekonomi Maluku ke depan tidak cukup hanya dilihat dari kemampuan menurunkan angka pengangguran.
Pemerintah juga perlu memastikan pertumbuhan kesempatan kerja berlangsung pada sektor yang mampu memberikan pendapatan lebih baik, jam kerja yang memadai, perlindungan tenaga kerja serta kepastian yang lebih besar bagi pekerja.
Dengan angkatan kerja yang telah menembus 1,01 juta orang, kebutuhan terhadap penciptaan lapangan kerja baru akan semakin besar.
Data BPS tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi pemerintah dan dunia usaha untuk memastikan pertumbuhan ekonomi Maluku mampu diterjemahkan menjadi pekerjaan yang lebih produktif dan berkualitas bagi masyarakat.(MM-9)
















